#
Anda membaca...
Catatan

Divide Et Impera


Masih ingat dengan pelajaran sejarah pada saat kita masih sekolah dulu?
Terutama dengan jargon Divide Et Impera yang dilakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda (VOC) pada saat masa kolonialisme dulu, untuk menghadapi perlawanan yang dilakukan oleh para pejuang kemerdekaan dulu, seperti : Pangeran Diponegoro, Sisingamangaraja XII, Kapitan Pattimura, Sultan Hasanuddin, Teuku Umar, dll.

Melihat situasi di masa sekarang, sepertinya politik Divide Et Impera itu masih berlaku baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Betapa politik Divide Et Impera tersebut berhasil ditanamkan sehingga tumbuh subur oleh kolonialisme Belanda kepada bangsa kita yang notabene pernah menjadi bangsa yang terjajah. Dimana dalam jangka waktu yang sangat lama, yaitu 350 tahun bangsa kita hidup dalam kebodohan dan kemiskinan karena ditindas oleh bangsa lain.

Divide et impera yang berarti “pecah-belah lalu kemudian jajahlah!” menjadi politik yang sangat efektif untuk menguasai suatu negara ( komunitas masyarakat ) baik secara de facto maupun de jure dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai kehendak dan tujuan yang menjalankannya. Tak salah di masa teknologi canggih sekarang ini timbul pro dan kontra mengenai kebebasan di dunia maya, khususnya kebebasan menggunakan internet sebagai media yang bisa diakses oleh siapapun tanpa dibatasi oleh letak geografis yang berbeda.

future-shine.jpg

Informasi yang cepat dan akurat dalam waktu per detik terus berubah dalam konten-konten yang ada di internet. Baik berupa konten positif ( bermanfaat bagi pembacanya ) maupun konten negatif ( sampah bagi pembacanya ) terus berlomba tampil seperti pameran teknologi yang berusaha menarik massa sebanyak-banyaknya. Sehingga tak jarang ada segelintir komunitas tertentu menghalalkan dengan segala cara untuk mencapai kehendaknya tanpa pandang bulu.

Jika kita renungkan, memang tak salah bila internet merupakan media yang bebas dan bisa diakses oleh siapapun yang mau mengaksesnya sesuai dengan hak untuk bebas mengutarakan pendapat atau menyampaikan sesuatu yang diakui sebagai HAM (Hak Asasi Manusia). Tetapi dibalik kebebasan tersebut juga ada aturan dan etika yang harus difahami dan disetujui bersama sebagai rambu yang harus ditaati oleh siapapun sebagai warga negara yang bijak. Jangan sampai kebebasan disalahartikan sebagai bentuk untuk menjadi liberalisme, yang notabene tidak sesuai dengan falsafah hidup kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Dan aturan serta etika juga harus sesuai dengan apa yang dikehendaki dan disetujui bersama antara sesama pengguna internet. Dimana dilibatkan juga orang-orang yang benar-benar menguasai apa itu Teknologi Informasi ( pakar-pakar TI bukankah ada banyak di Indonesia? ) dan juga komunitas-komunitas lainnya sebagai pengguna internet yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, sehingga tercapai tujuan dari apa yang diinginkan bersama secara proporsional untuk menghindari fitnah dan masuknya intervensi dari dari komunitas tertentu dengan menggunakan cara-cara Divide Et Impera yang hanya menimbulkan permasalahan tiada henti di kemudian hari 😦

Atau mungkin ada solusi lain barangkali?

Dan gw masih termangu sendiri di sini membaca info di internet yang penuh dengan caci-maki tiada henti! Membosankan

Iklan

About devry

Just the way I am

Diskusi

One thought on “Divide Et Impera

  1. Wah .. keduluan deh 🙂 sebenarnya saya juga akan menulis tentang divide et impera, tapi nanti .. menjelang peringatan hari kebangkitan nasional. Tapi gpp deh, ini komentar pemanasan dulu :mrgreen:

    Yups .. yang namanya beda pendapat, saya pikir baik-baik saja. Sepanjang memang untuk mencari solusi terbaik. Perbedaan itu akan menjadi kontra produktif, ketika kita kemudian — tanpa sadar — mulai berkelompok, antara yang pro dan kontra.

    Ketika membahas masalah lain pun, kelompok ini tetap solid walaupun sudah tidak relevan dengan masalah sebelumnya. Hal ini semata-mata karena rasa solidaritas kelompok .. ini lah yang merupakan ekses negative dari pengelompokan.

    Sebaiknya .. ketika membicarakan topik — misalnya — IPDN, kita bisa saja sependapat. Tapi ketika membahas masalah — misalnya — Fitna, bisa jadi kita berseberangan pendapat. Jadi .. selama tidak mengelompok secara permanen, rasa2nya perbedaan pendapat gpp koq Dev.

    Posted by erander | 1 April 2008, 2:57 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Other Languages?

Tentang Blog Ini?

Semua tulisan sederhana pada blog ini merupakan tulisan personal bersifat Open Source. Terbuka bagi semua netter untuk pembelajaran kita bersama. Terutama bagi netter yang suka membaca, mencari dan menambah informasi serta wawasan yang membuka cakrawala dunia di internet. SEMOGA BERMANFAAT...

Total Track?

  • 1,287,453 visitors

Sharing This Blog?

Info Track?

%d blogger menyukai ini: