#
Anda membaca...
Umum

Hiduplah Bersama Tenaga dan Keindahan Kata Anak Muda! (2)


Lho, ini maksudnya apa?

Sebelumnya baca prolognya dulu di sini ya! 🙂

Nah, sudah tahu khan? :mrgreen:
Oke… selanjutnya kita lanjutkan lagi kumpulan puisi-puisi pendek dalam novel Balada Si Roy kali ini :

EPISODE IV :

bulan mengintip lewat jendela
ketika ia terbaring resah dalam kamarnya
sepi menyelinap! bersarang di dada
ia terbaring resah dalam kamarnya
sepi mengoyak-moyak mimpinya
dan yang dinanti belum juga tiba
( Toto ST Radik )

Di pantai aku bertemu ombak
ia mengajakku bermain
aku dan ombak bernyanyi-nyanyi
sambil membuat labirin
dari pasir dan pecahan karang
lalu main petak umpet di dalamnya
Tiba-tiba saja ombak menghilang
dan aku tak tahu jalan pulang
O, ombak menyanyilah merdu
agar jalan dapat kutemu
( Toto ST Radik )

Sinar bulan menyuram perlahan
angin sembunyi di lembah sunyi
serangga pun berhenti melagu puisi
Saat gulita melulur mata
jadi punah segala warna
tinggal gelisah berputar berpusar
menerkam wajah tanpa darah
( Toto ST Radik – Rys Revolta )

getaran kecapi jiwa
melagu panjang tembang petualang
peristiwa nyeri jangan jadikan beban
sebab daun-daun yang mengering
terguling ke bumi
tak pernah merasa sunyi dan sia-sia!
( Toto ST Radik )

dalam sepi kian bertahta di hati
adakah angan lain? desah lain?
lagu lain? atau satu puisi paling syahdu
belum sempat kuresapi dalam gelak kotaku
( Rys Revolta )

Jiwa kita tak dapat ditapakkan di satu tempat
karena jiwa kita tercipta dari kisah-kisah,
lamunan, igauan, mimpi, lumut, batu, rawa,
laut, pasir, karang, awan, gunung, belantara,
matahari, bulan… dan wajah kita sendiri
biarkan jiwa kita mengelana di setiap langkah!
( Toto ST Radik )

belum juga kupahami
di sini waktu terus berlari
atau justru berhenti
barangkali memang mesti begitu
tapi mengapa semua seperti tak peduli
bersikejaran dengan entah apa entah siapa
memaknai perjalanan
gelisahku menjelma duri nyeri!
( Toto ST Radik )

Pernah aku dengar
suara terima kasih laut
atas merah langit
dalam keramahannya
menyapa getar haruku
Dan Kau kuhampiri
setelah aku gagal
mengunjungi yang lain
Duh.
( Dang Suganda )

hujan berkeliaran
di langit tak terbatas pandang
kemudian dicurahkan ke bumi gersang
menyiram benih tumbuh jadi padi menguning
pohonan pun merindang
ikan-ikan berenangan
dan hujan terus berkeliaran
di langit tak batas pandang
( Toto ST Radik )

EPISODE V :

Lalu setelah ini apa?
begitulah berulang kali aku bertanya
sambil menyeret beribu impian
kutahu tiada yang ‘kan menyahut
di bumi asing yang kian keriput
cuma deru angin, cuma deru angin!
( Toto ST Radik )

akulah Sisyphus
beribu tahun memburu matahari
gelap malam dan bayangan hitam pepohonan
hilangkan jejak koyakkan jiwa
tapi aku adalah Sisyphus
terus berlari walau fajar masih lama!
( Toto ST Radik )

menarik garis langit di atas kertas putih
dari setitik noktah tak kutemukan juga ujungnya
selalu berlanjut dan selalu berlanjut
menembus malam menembus siang
terang bulan menyinari sebuah garis langit
yang kutarik di atas sebuah kertas putih
dari setitik noktah tapi selalu saja
tak nampak jelas:
garis langit memburam di atas kertas putih!
( Toto ST Radik )

pagi. embun terakhir melayang jatuh
pecah dan lesap di tanah berdebu
tanpa jejak!
dan matahari terus berlari.
malam. sunyi merajai hatiku kembali
kelam dan kekal di langkah gundah
tak berkesudahan
( Toto ST Radik )

seperti ikan
Kaulepas aku ke dalam akuarium
berenang di antara rumputan
meliuk di sela-sela karang
Tuhan
kulihat Kau
berdiri memandangi aku
tapi kaca ini, kaca ini…!
( Toto ST Radik )

seperti matahari kehilangan bumi
aku beredar menjalani hari-hari
mengapa mesti sia-sia begini
kutemukan wajahku letih dan sunyi
di antara kenyataan dan mimpi-mimpi
tapi mestikah berhenti?
( Toto ST Radik )

kudengar keluh daun kering
di ujung ranting
kudengar tangis burung tua
kehilangan bulu-bulu sayapnya
berhadapan dengan sang waktu
segala jadi tak berdaya
maka aku pun terus mengembara
sebelum sang waktu menghunus pisaunya
( Toto ST Radik )

bulan separuh
sunyi mencumbu waktu
kereta api menguik memecah lamunan
sendirian aku menatap gelap
dari balik jendela kaca kusam
bulan sepenuhnya terusir dari langit
di benak masih tersisa pertanyaan lain:
di manakah rumahku?
( Toto ST Radik )

menggeliatlah! menarilah!
sampai basah tubuh oleh peluh
biar saja senjakala jatuh
dan malam menyergapkan kelam
tak perlu menyumpah menyerapah
atau termangu atau tersedu pilu
menggeliatlah! menarilah!
seperti burung malam yang tak lelah
menyeru bulan. tak lelah-lelah!
( Toto ST Radik )

EPISODE VI :

dan sungai yang mengalir ke samudra
dan ombak yang menjemput di muara
ialah cinta yang tak pernah alpa
ketulusan tak putus ditikam musim
jarak mengobarkan rindu dalam rahim
bagai unggun api yang terus menyala
angin pun tak kuasa memadamkannya!
( Toto ST Radik )

O, mawar yang kutanam setahun lalu
telah tumbuh dan bermekarankah di hatimu?
begitu lama aku pergi, jauh dari kamu
melayang bagai kapas di antara debu-debu
larut dalam permainan abadi sang waktu
kini aku berdiri depan pintu pagar rumahmu
kulihat kamu menunggu di bangku taman itu
dari sela daunan cahaya bulan jatuh di wajahmu
( Toto ST Radik )

kenapa tak pernah kautambatkan
perahumu ke satu dermaga?
padahal kaulihat, bukan hanya satu
pelabuhan tenang yang mau terima kapalmu
kalau dulu memang pernah ada
satu pelabuhan kecil, yang harus dilupakan
mengapa tak kaucari pelabuhan lain ?
( Asih Purwaningtias )

angin, laut, api, musim
berada di mana sekarang?
barangkali tengah menusuki rusuk nasib
yang selalu sigap menunggu sebatas cinta
yang mengerti dunia mengerti baqa:
aku lupa!
( Dadie Rs Natadipura )

Ini hanya terjadi dalam sajak sentimentil.
Itulah soalnya ketika mencari dan menggerutu
masih tersisa wangi rambutmu.
Bertemu tak bertemu jadi pengertian
tak penting lagi. Tapi yang penting
adalah: mencari. Barangkali masih sanggup
menghargai yang sia-siai di mana perasaan
saling memiliki, memilih berebut cari tempat.
Sedang yang lain berfilsafat ringan dan
kesabaran menangkap makna
seperti menikmati sajak.
( Heri H Harris )

kotak-kotak teka-teki
masih kosong tak berisi
berulang kali, aku menyeru
yang datang terus debu
o, cinta yang dilanda kemarau
adalah luka dalam mimpi kemilau:
sempurnalah kesunyianku!
( Toto ST Radik )

bermain di pantai, ombak menerkamku
dan laut menenggelamkan sampai dasar
di antara ikan, ular, karang sunyi
kuliuki hari-hariku tanpa cuaca
lihatlah, tubuh dan jiwaku garam
sia-sia menjangkau matahari. sia-sia!
( Toto ST Radik )

burung yang terluka adalah aku
terbang mencari makna kepak sayap
tapi lihat, seribu matahari bermunculan
mengepungku dari segenap penjuru
terbakar bulu-bulu sayapku! o, terbakar!
ya, akulah burung yang terus terbang
tak mungkin berpaling, surut ke belakang!
( Toto ST Radik )

berdenyut di nadi peristiwa
kuseru debu menjadi batu
kuseru cinta menjadi luka
tikam! tikam! o, tikamlah aku!
bikin aku mabuk dan sempoyongan
terkapar di tikungan jalan
sehabis capai meneriakkan puisi:
beribu kata menyesak di dada!
( Toto ST Radik )

EPISODE VII :

Akan diselesaikan dipostingan berikutnya ya! 😉

Iklan

About devry

Just the way I am

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Other Languages?

Tentang Blog Ini?

Semua tulisan sederhana pada blog ini merupakan tulisan personal bersifat Open Source. Terbuka bagi semua netter untuk pembelajaran kita bersama. Terutama bagi netter yang suka membaca, mencari dan menambah informasi serta wawasan yang membuka cakrawala dunia di internet. SEMOGA BERMANFAAT...

Total Track?

  • 1,287,097 visitors

Sharing This Blog?

Info Track?

%d blogger menyukai ini: