#
Anda membaca...
Umum

Hiduplah Bersama Tenaga dan Keindahan Kata Anak Muda! (3)


Ya, hiduplah bersama tenaga dan keindahan kata anak muda!

Hidup dalam kisah yang satu dan kisah lainnya

EPISODE VII :

Dunia adalah milik orang-orang pemberani!
( pepatah lama )

jalannya berkelok dan mendaki
siapa menanti tak pernah kutahu
sunyiku pun kekal: menjajah diri
dan angin pun gelisah menderu
ah, ingin aku istirah dari mimpi
namun selalu kudengar ia menyeru
tentang jejak di tanah berdebu
diam-diam aku pun berangkat pergi
( Toto ST Radik )

sungai yang berlari
menembus gelapnya belantara
menyelam aku ke jagat raya
mabuk dalam mimpi kanak-kanakku
bagai kuda liar yang berlari
tak berakhir di jalan buntu
begitulah, kurenggutkan sepiku
lalu mengapa mesti pilu
ketika langit tak bermatahari
( Toto ST Radik )

mengarungi samudra waktu tak bertepi
gelisah aku dalam perahu nasib
gelap dan rahasia, tak terselami
aku tak tahu mengapa sampai di sini
terlunta sendirian menyiulkan tembang
o, alangkah rawannya hidup lelaki
begitu jauh mencari tempat pijak
( Toto ST Radik )

dan jemariku gemetar
detik demi detik ditikam
sangsi. ditikam keentahan
kaki terantuk di batu-batu
nadi luka tersiram air garam
inikah kemustian hidup ?
ah, aku tak bisa mengelak!
( Toto ST Radik )

Seorang menutup mata di balik jari
sembunyi dari rasa malu, menjauh dan berlari
kausembunyikan dirimu di tengah gelombang
atau di balik batu gurun lapang
aku menyepi di antara rembulan dan matahari
padahal kita bisa duduk di taman malam
menggelindingkan cerita klasik yang berulang
( Asih Purwaningtyas )

seperti kita yang berlari
waktu berpacu bersama angin
melindas tapak
membenamkan jejak, tak bermakna
seperti pelarian kita
( Asih Purwaningtyas )

biarlah aku terus terlunta
di jalan-jalan asing berdebu
sendirian meraba arah hidupku
menghadapi pahit nyeri luka-luka
sebab langkah yang telah ditempuh
tak bisa ditawar dengan keluh!
( Totok ST Radik )

aku rindu merah matahari
mengusir gelap malam sekelilingku
bulan cuma bayang remang-remang
memerahlah matahari di dada, wahai!
memecah kabut belenggu-belenggu
atas cinta yang mulai kembang
( Totok ST Radik )

EPISODE VIII :

melintasi sebuah kota yang terik aku melihat
kenyataan hidup yang rawan wajah-wajah
gamang berkeliaran di simpang jalan
bertarung nyawa berebut rezeki recehan
iklan-iklan gemerlapan menawarkan
mimpi-mimpi mengalir di sungai yang
hitam o, kepada siapa kukabarkan semua ini?
( Totok ST Radik )

“Saya akan mengkaji masalah-masalah dunia seperti batu menembus air,
tanpa melakukan sesuatu, tanpa berbuat sendiri.
Saya ditarik dan dibiarkan jatuh. Saya ditarik oleh rujuan,
karena tidak membiarkan sesuatu yang menentang tujuan memasuki pikiran.
Tapi kebanyakan orang seperti daun jatuh yang terguncang angin dan meliuk-liuk di udara,
berkibar-kibar, dan jatuh ke tanah.
Tetapi hanya sedikit yang seperti bintang-gemintang yang mengitari satu garis edar tertentu:
tak ada angin yang menyentuh bintang-gemintang itu.
Di dalam diri mereka, mereka memiliki petunjuk dan jalan sendiri. ”
( Sidharta, Herman Hesse )

“Hiduplah kamu bersama tenaga dan keindahan kata.
Pergilah ke timur. Pergilah ke timur, anak muda.
Pergilah pada matahari yang tak pernah tenggelam.
Jalani hari-harimu dengan hal-hal baru.
Kau pasti melihat betapa timur selalu memulai.
Teruslah berjalan ke timur.
Dan kau akan menemukan betapa barat lebih cepat berputar.”
( Asih Purwaningtyas )

Kita sedang hidup dalam pagi dari suatu zaman dan dalam kabut dari waktu sebelum fajar,
di mana manusia berjalan kebingungan dan melihat pandangan-pandangan asing.
Tetapi kabut itu akan cair di bawah sinar sang surya yang telah menciptakannya.
Dan dunia akan tampak jadi lebih kokoh dan indah kembali.
( Ernest Hemingway )

Kembali pada hidup semula,
keasingan juga menyergapku.
Lalu di mana membaringkan letih dan perih?
Matamu masih teka-teki
Jalan-jalan rawan yang dulu kusapa berkelebatan, menggoda.
Berkelebatan karena rumah hanya bermakna impian-impian dan wanita?
Besok saling melupa. Melupa!
( Totok ST Radik )

aku duduk di batang pohon yang tumbang,
di saat senja di pantai di Pulau Seram
memandang ke seberang laut:
ombak dan senja perahu dan bocah nelayan
aku duduk di pantai di sebatang pohon yang telah tumbang
angan-anganku tenggelam bersama senja
( Heri H Harris )

masih tentang perjalanan!
sebab sebelum sampai pada langkah yang penghabisan
ia terus melagu di batinku dan aku tak bisa mengelakkannya
maka biarlah aku kembali berlari meski beribu keentahan di depanku
jalan ini memang tak pernah selesai,
tak selesai-selesai!
( Toto ST Radik )

lepas dari keseharian kumasuki sisi hidup yang lain pada mulanya
sempat meragu aku
tetapi kesadaran tentang jalan yang tak mesti selalu lempang
mengantarku sampai pada pengertian
bahwa pencarian setiap orang
senantiasa dalam warna berbeda
( Toto ST Radik )

Nyaman di sini,
di pantai bersama senja,
pohon kelapa,
dan ombak
biar saja angan-angan
toh nanti tenggelam bersama senja
nyaman di sini,
di pantai bersama perahu,
jaring dan ikan biar saja angan-angan
toh nanti berganti bersama fajar
( Heri H Harris )

Malam dari malam yang lain semua
bersembunyi di langit hiram mata-mata takut
terpejam laut dan langit hendak menelan:
Tuhan ternyata ada di sekeliling!
( Heri H Harris )

EPISODE IX & X :

“Kalau kemiskinan itu berwujud manusia, niscaya akan kubunuh dia!”
( kata orang bijak )

Alam memberikan manusia hanya satu lidah
tetapi dua telinga supaya kita mendengar dua kali lebih banyak
daripada yang kita ucapkan.
( Epictetus )

Seorang lelaki harus berani mengusir ketakutan.
Ketakutan untuk berbuat salah.
Ketakutan untuk berbicara salah.
Dan seorang perempuan harus berani memiliki jiwa lelaki.
Berani mendampingi gelisah lelaki.
Berani untuk tidak takut kehilangan lelaki.
( Heri H Harris )

Siapa rindu kebebasan, ceburilah kabut dalam tekad peleburan.
Apa yang tanpa wujud senantiasa mencari bentuk,
tak beda dengan jutaan bintang yang menjelma jadi matahari-matahari dan bulan-bulan;
dan kita para pencari, yang pulang dalam wujud ini, sesosok zat padat,
sekali nanti larut dalam kabut lagi, dan menghayati kehidupan dari asal kejadian.
Dan, apa yang bisa bangkit membumbung angkasa,
tanpa terbelah pecah dalam gairah hidup dan kebebasan?
( Taman Sang Nabi, Kahlil Gibran )

Jika maut datang menjemputku, tolong beri aku doa.
Agar tak dikawinkan api-Nya.
Taburkan melati biar wangi.
Dan ketika upacara pemakamanku nanti;
jangan ada tembakan salvo.
Aku takut gendang telinga orang pecah.
Juga tak usah bendera setengah tiang,
karena namaku tak tercatat dalam sejarah.
Biarkan tanah merah, sebilah bambu, dan kendi berisi air saja.
( Heri H Harris )

mimpi-mimpiku terbanting di sini
maut berkisaran di wajah-wajah kalah
kemiskinan o kegelapan!
anggur, bunga-bunga, perempuan, wahai
menjelajah ke ruang mabuk ini
mengalirlah bersamaku di sungai-sungai hitam
berdekapan kita dan mabuklah!
( Toto ST Radik )

orang-orang bergumam sepanjang jalan
merindukan hujan. tetapi lihatlah
seribu matahari bermunculan tiba-tiba
ini dunia mesti dimaki?
ah, siapakah kirimkan wangi kembang?
pergi dan melenyaplah!
telah kulepaskan segala tentangmu
dan cinta cuma dongeng kanak-kanak
( Toto ST Radik )

Manusia baru bisa bebas setelah dia mati.
( Plato )

tak ada jalan keluar! pintu-pintu
terkunci sudah. lagu pulang cuma
igauan aku serupa mereka:
beribu wajah termangu dalam labirin kota-kota
masa lalu dan masa depan telah hilang
tinggal bayang-bayang gemetaran
menanti segala tiba
( Toto ST Radik )

Aku manusia pejalan, bagai sungai berteman
sampah, limbah; tak peduli sumpah serapah.
Dari kemarau ke bulan; melepas fajar menanti
senja. Mengejar bayanganku sendiri. Kata Bunda,
“Jangan tinggalkan rumah,” karena di sana aku
ada, nakal, besar, dan mimpi-mimpi. Tapi aku
lompati pagar, memilih Barat dan Timur. Sampai
habis batas umur. Aku memang lelaki pejalan.
Tak tahu kapan mesti berhenti.
( Heri H Harris )

Lelaki dimiliki wanita, tapi dia memiliki semua.
Dia harus pergi, tapi juga harus pulang,
karena ada yang dikasihi dan mengasihi.
Ya, lelaki memang harus pergi,
tapi juga harus pulang.
( Heri H Harris )

Aku memimpikan rumah. Di atas bukit.
Pohon rimbun. Sawah. Gunung. Sungai.
Bebatuan. Tawa anak gembala di punggung
kerbau. Main lumpur. Alamku. Mimpiku.
Aku memimpikan rumah. Di atas bukit.
Bunga-bunga. Kasih. Belaian. Harapan.
Alamku. Mimpi-mimpiku.
( Heri H Harris )

Demikianlah, kisah puisi-puisi indah pembuka dalam kisah Balada si Roy 😉

Iklan

About devry

Just the way I am

Diskusi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Other Languages?

Tentang Blog Ini?

Semua tulisan sederhana pada blog ini merupakan tulisan personal bersifat Open Source. Terbuka bagi semua netter untuk pembelajaran kita bersama. Terutama bagi netter yang suka membaca, mencari dan menambah informasi serta wawasan yang membuka cakrawala dunia di internet. SEMOGA BERMANFAAT...

Total Track?

  • 1,287,453 visitors

Sharing This Blog?

Info Track?

%d blogger menyukai ini: